Keroyokan Kayuh Sepeda Wisata Penuh Kilau Lampu

Benteng Kuto Besak

Bersepeda dengan ratusan cahaya lampu di malam minggu ditemani pasangan atau geng terdekat dengan background Ampera atau Benteng Kuto Besak (BKB), siapa yang menolak. Sekarang pilihan wisata ini banyak diminati. Bersamaan dengan banyaknya “wong kito” yang melihat peluang bisnis ini masih cerah (meskipun jam oprasi mereka di malam hari). Bukan hanya satu dua orang atau kelompok yang menyediakan jasa sewa sepeda wisata tapi ada belasan penyewa sepeda berjajar sepanjang jalan di depan benteng yang mulai dibangun tahun 1780 dengan arsitek yang “no name” dan seorang Tionghoa dipercaya menjadi pengawas pekerjanya.

Sepeda hias di BKB
Sepeda hias di BKB
Sepeda hias di BKB
Sedepda hias menunggu penumpang penuh

Setiap sepeda tidak hanya bisa memuat paling banyak 2 orang, dengan modifikasi sedemikian rupa lima sampai enam orang siap diangkut. Dengan lampu disekeliling bingkai sampai ke atapnya, setiap penumpang tetap punya tugas yang sama, mengayuh. Masing-masing tempat duduk disediakan tempat mengayuh. Jadi tetap sesuai dengan beban yang akan diangkut. Semakin banyak pemunpang, semakin berat beban sepeda tapi setiap penumpang harus tetap mengayuh mengurangi beban. Adil.

Sepeda hias di BKB
Cahaya lampu meriahkan suasana
Sepeda hias di BKB
Ramai muda-mudi

Untuk sekali keliling biaya sewanya Rp 50.000 – Rp 60.000/ sepeda wisata tergantung banyaknya angkutan. Jadi kalau hitungan perorangnya Rp 10.000 deh. Kalau biasanya saya selalu mengingatkan untuk sesi tawar-menawar, kali ini tidak. Karena sepertinya tarif ini sudah merata, saya pernah mencoba menawar tapi gagal. Mungkin kalau yang punya usaha keluarga baru dikasih nawar.

Sepeda hias di BKB
Sepeda dikayuh oleh 5-6 orang

Rutenya cukup menambah wawasan wisatawan (baru) sih. Dari BKB melewati (bagian samping) museum Sultan Mahmud Badaruddin II (berupa rumah panggung khas Palembang yaitu rumah limas) lalu menuju kantor pos. Menyusuri Jalan Merdeka, traveller akan menjumpai kantor-kantor pemerintahan kota Palembang di kiri dan kanan jalan, terakhir bertemu dengan bangunan khas kolonial yaitu kantor walikota yang historikal. Kemudian kembali lagi ke BKB.

Gedung ledeng
Melewati gedung ledeng

Orang-orang tua di Palembang mengenal gedung walikota dengan sebutan Gedung Ledeng. Sejarahnya gedung yang dibangun tahun 1929 dan jadi bangunan paling tinggi dimasa nya ini digunakan untuk mengairi air bersih ke orang-orang Belanda di daerah sekitar. Maklumlah saat itu ‘wong Belando’ (orang Belanda) merasa risih menggunakan air dari sungai musi yang juga digunakan pribumi untuk mandi, mencuci baju dan piring termasuk untuk kebutuhan dapur mereka.

Beragam bentuk sepeda
Beragam bentuk sepeda

Sepanjang menikmati sepeda wisata, akan ada orang bermotor yang membuntuti anda. Tapi jangan banyangkan mereka tukang begal. Jadi tugas mereka menjamin keselamatan mengendara sepeda mengingat jalan yang kita lalui adalah jalan umum yang juga dilalui mobil dan motor. Selain itu rakut-takutnya ada kerusakan dengan sepeda wisatanya. Entah lepas rantai atau ban bocor, maklum ciptaan manusia tiada yang sempurna. Tapi untuk traveller yang ingin didampingi untuk menjelaskan setiap sisi yang akan dilewati, bisa request kok sama ‘mamang’ (sapaan sayang atau lebih manis bisa panggil ‘kakak’).  Cukup lebihkan saja untuk uang rokok sang memandu.

Benteng Kuto Besak
Banyak hiburan lain di malam minggu nya BKB
Benteng Kuto Besak
Hiburan untuk dewasa hingga anak-anak

Selain sepeda wisata di sini ada banyak hiburan lain. Untuk anak-anak ada odong-odong atau pancing-pancingan. Kulinernya juga beragam tapi yang paling hits adalah mi tek tek sambil duduk-duduk di pinggir sungai musi. Wajib dicoba. Tapi tetap waspada dengan tas dan barang berharga. Kejahatan bisa terjadi dimana saja.

Selamat bersepeda.

Keroyokan Kayuh Sepeda Wisata Penuh Kilau Lampu
5 (100%) 1 vote
(Visited 551 times, 1 visits today)

a daughter who so close to father and greatly admired to mother

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *