Masjid Muhammad Cheng Hoo, Indahnya Arsitektur Tionghoa di Palembang

Masjid Muhammad Cheng Hoo

Bila teman-teman traveller sedang berkunjung ke kota Palembang dan kebetulan sedang berada di daerah Jakabaring, tidak ada salahnya menyempatkan diri mengunjungi Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya Palembang atau yang biasa disingkat Masjid Cheng Hoo. Masjid 2 lantai yang berdiri di lahan seluas 5000 meter persegi ini berukuran 25×25 meter, memiliki 2 pagoda kembar di sisi kanan dan kiri bangunan utama masjid yang diberi nama Habluminallah dan Habluminannas. Di bagian bawah pagoda sendiri difungsikan sebagai tempat wudhu jamaah.

Masjid Muhammad Cheng Hoo
Salah Satu Pagoda

Arsitektur Tionghoa sudah terlihat kental di gapura pada gerbang masuk masjid, pilar besar berwarna merah plus aksen hijau dipadu dengan atap berwarna kuning emas menambah aroma akulturasi budaya Melayu, Arab dan Tionghoa di masjid ini. Dua menara/pagoda di Masjid Cheng Hoo Palembang terdiri atas 5 tingkat yang melambangkan jumlah 5 shalat wajib yang dilakukan dalam sehari semalam. Tinggi menara lebih kurang 17 meter, yang merupakan simbol dari jumlah rakaat dalam sholat wajib tersebut.

Masjid Muhammad Cheng Hoo
Gerbang Masuk Masjid Cheng Hoo

Memasuki bangunan utama masjid, unsur warna merah masih dominan terlihat di pilar-pilar besar yang menjulang tinggi. Masjid yang resmi dipakai semenjak tahun 2008 ini dapat menampung sekitar 600 jamaah. Ornamen-ornamen di dalamnya juga kental dengan nuansa Tionghoa, seperti pagar pembatas di lantai atas yang makin mempercantik interior masjid Cheng Hoo.

Masjid Muhammad Cheng Hoo
Bangunan Utama Masjid Cheng Hoo

Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) yang ada di Palembang. Masjid ini juga kerap kali dijadikan masa transisi muallaf Tionghoa pada khususnya dan muallaf lain pada umumnya untuk mendalami ajaran Islam. Apabila beruntung, teman-teman dapat mengabadikan momen seorang muallaf yang mengucapkan dua kalimat syahadat di sini. Di kawasan masjid ini juga kini terdapat rumah tahfidz, guna mencetak bibit-bibit penghapal Qur’an dari Kota Palembang dan sekitarnya.

Masjid Muhammad Cheng Hoo
Mimbar Khotib

Sejarah penamaan masjid ini berawal dari seorang Laksamana asal negeri Tiongkok bernama Cheng Hoo. Cheng Hoo adalah seorang kasim Muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa tahun 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Awal mula Islam menyebar di Indonesia, selain dilakukan para pedagang dari jazirah Arab, ternyata para pedagang asal Tionghoa juga ikut berperan menyebarkan Islam di daerah pesisir Palembang. Di sini pula peran Laksamana Cheng Hoo dalam menyebarkan Islam di Palembang, dengan armada sebanyak 62 buah kapal dan 27.800 orang tentara yang dipimpinnya pernah empat kali berlabuh di pelabuhan tua di Palembang.

Pada tahun 1407 Kota Palembang yang berada di bawah kekuasaan Sriwijaya pernah meminta bantuan armada Tiongkok yang ada di Asia Tenggara untuk menumpas perampok-perampok Tionghoa Hokkian yang mengganggu ketenteraman. Kepala perampok tersebut bernama Chen Tsu Ji berhasil diringkus dan dibawa ke Peking. Semenjak itu, Laksamana Cheng Hoo membentuk komunitas masyarakat muslim Tionghoa di Kota Palembang yang memang sudah ada sejak zaman Sriwijaya. Berkat jasanya itulah nama Cheng Hoo diabadikan menjadi nama masjid pertama di Palembang yang kental unsur Tionghoanya ini.

Patokan menuju ke masjid Cheng Hoo ini cukup gampang, dari pusat kota yang berada di seberang ilir, anda lalu menyeberang ke daerah seberang ulu melalui jembatan Ampera ke arah pasar induk Jakabaring. Nah di seberang pasar ini ada komplek perumahan Amen Mulia, dimana letak masjid ini berada. Alternatif transportasi menuju ke sini adalah kendaraan umum seperti angkot, taksi, ojek maupun transmusi bagi yang tidak membawa kendaraan pribadi.

Masjid Muhammad Cheng Hoo
Salah Satu Sisi Masjid Cheng Hoo
Masjid Muhammad Cheng Hoo, Indahnya Arsitektur Tionghoa di Palembang
5 (100%) 1 vote
(Visited 1,478 times, 1 visits today)

I am what I am. Suka makan, suka motret. Mengcapture momen ketika sinyal saraf mata mengirim impuls ke otak.

6 Comments

  1. Nina
    June 4, 2015

    PR bagi aku yang belum pernah kesini, hiks

    Reply
    1. M. Aulia Ramadhani
      June 4, 2015

      Tenang mb, saat sesi pemotretan ini my parents pun baru pertama kalinya menginjakkan kaki di sini. Jadi you’re not alone. Tapi sempetin lah, arsitekturnya unik loh.

      Reply
  2. suzan
    June 4, 2015

    Kalo ke kawasan Jakabaring, biasanya menyempatkan sholat di Chengho

    Reply
    1. M. Aulia Ramadhani
      June 4, 2015

      nah sudah benar ini (y)

      Reply
  3. Erie Khafif Mukti
    June 5, 2015

    Aku pernah sekali solat di sini sore-sore. Perlu dipasang tanda/arah menuju Masjid Cheng Ho ini supaya pengunjung tidak bertanya-tanya orang di sekitar Tugu Parameswara. Atau sudah ada tanda/arahnya?

    Reply
    1. M. Aulia Ramadhani
      June 5, 2015

      Papan arahnya ada di seberang pasar induk Jakabaring om

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *