Mengenang Perjuangan Kiai Muara Ogan dalam Syiar Islam di Palembang

Gerbang masuk Masjid Kiai Muara Ogan, Kertapati, Palembang
Gerbang masuk Masjid Kiai Muara Ogan, Kertapati, Palembang

Mungkin bagi Anda mengira wisata lebih banyak jalan-jalan ke tempat objek wisata alam yang indah, menikmati makanan khas setempat, dan menginap di hotel yang nyaman nan mewah. Padahal ada satu wisata yang diyakini sebagian orang menyukai wisata religi.

Sebagian orang Islam, misalnya, senang mengunjungi sejumlah masjid tua dan ziarah ke makam para tokoh agama yang memiliki peran penting dalam syiar Islam pada masa hidupnya. Masjid yang berusia ratusan tahun pada umumnya menjadi daya tarik para wisatawan yang ingin mengetahui lebih dekat. Dari arsitektur masjidnya sampai sejarah berdiri masjid sampai masa sekarang.

Kiai Haji Masagus Abdul Hamid atau yang dikenal masyarakat Palembang sebagai Kiai Muara Ogan adalah salah satu tokoh ulama yang terkenal pada masanya. Ia lahir dari keluarga bangsawan Kesultanan Palembang pada tahun 1811. Kiai Muara Ogan adalah putra seorang bangsawan Palembang. Ayahnya bernama Masagus Mahmud. Meskipun dari keturunan bangsawan, ia dikenal sebagai seorang ulama yang zuhud dan tawadhu.

Masjid Kiai Muara Ogan tampak dari depan
Masjid Kiai Muara Ogan tampak dari depan

Berdasarkan sejarah, Kiai Muara Ogan dikenal masyarakat Palembang selain sebagai ulama yang terpandang. Ia berdakwah dan menyiarkan ajaran Islam dengan menaiki perahu menyusuri sungai musi hingga daerah pelosok di Sumatera Selatan. Sejumlah daerah yang dikunjunginya, antara lain Pemulutan, Belida, Airitam, dan banyak lagi daerah lainnya.

Metode dakwah Kiai Muara Ogan sangat efektif. Ia selalu membangun masjid atau langgar sebagai tempat ibadah dan kegiatan dakwah di tempat yang dikunjunginya. Pembangunannya menggunakan biaya sendiri yang dihasilkan dari usaha Kiai Muara Ogan berdagang kayu.

Mimbar khas Masjid Kiai Muara Ogan masih menampakkan keaslian.
Mimbar khas Masjid Kiai Muara Ogan masih menampakkan keaslian.

Menurut cerita Masagus Ahmad Fauzi, cicit Kiai Muara Ogan, suatu hari Kiai Muara Ogan ingin hijrah ke Masjid Aqsha di Palestina. Pada tahun 1819, terjadi perang Menteng yang menyebabkan gugurnya banyak ulama di Palembang. Pada tahun 1823, secara resmi Belanda menguasai Palembang. Oleh karena itu Kiai Muara Ogan merasa bahwa negerinya masih sangat membutuhkannya, sehingga ia memilih kembali ke Palembang untuk berdakwah.

Pada tahun 1871, Kiai Muara Ogan mendirikan masjid di lokasi pertemuan antara Sungai Musi dan Sungai Ogan atau di lingkungan masyarakat setempat disebut muara. Masjid Kiai Muara Ogan ini berdekatan dengan Stasiun Kereta Api yang terletak di Jalan Kiai Marogan, Kelurahan I Ulu, Kecamatan Kertapati, Palembang. Masjid Kiai Muara Ogan Masjid ini awalnya bernama Masjid Jami Kiai Abdul Hamid bin Mahmud. Karena Kiai Muara Ogan sangat dikenal masyarakat sebagai ulama, kemudian berubah menjadi Masjid Kiai Muara Ogan.

Tampak dalam Masjid Kiai Muara Ogan
Tampak dalam Masjid Kiai Muara Ogan

Masjid Kiai Muara Ogan yang sudah berusia satu abad lebih ini salah satu peninggalan Kiai Muara Ogan yang masih berdiri sampai sekarang. Bangunan masjid ditopang oleh tiang-tiang berbentuk persegi delapan. Bentuk kubahnya yang dipengaruhi bentuk rumah limas dan susun kayu kajang onglen memanjang mengelilingi ruangan dalam masjid.

Bagian-bagian masjid sebagian besar masih asli. Antara lain, saka guru dan 12 tiang penunjangnya, rangka bangunan atap, langit-langit, dan kuda-kuda. Mimbar khas masjid ini juga masih menampakkan keaslian, baik bahan maupun hiasannya. Di samping itu, beduk yang digunakan hingga sekarang berukuran panjang 2,5 m dan berdiameter 0,8 meter.

Tiang-tiang penunjang bangunan Masjid Kiai Muara Ogan
Tiang-tiang penunjang bangunan Masjid Kiai Muara Ogan

Selain Masjid Kiai Muara Ogan di Kertapati, Palembang, pada tahun 1890, Kiai Muara Ogan membangun Masjid Lawang Kidul (sebelumnya pernah ditulis disini) yang terletak di tepi sungai Musi di kawasan Ilir Timur II Palembang.

Masjid Kiai Muara Ogan dan Masjid Lawang Kidul merupakan markas dakwahnya yang sangat berpengaruh. Dari kedua masjid itu, dengan menggunakan perahu, Kiai Merogan bolak-balik menyebarkan misi dakwahnya. Makam Kiai Merogan yang banyak diziarahi warga Palembang dan luar Palembang terletak di sebelah utara samping Masjid Muara Ogan, Kertapati, Palembang.

Pintu masuk makam Kiai Muara Ogan, di sebelah utara Komplek Masjid Kiai Muara Ogan
Pintu masuk makam Kiai Muara Ogan, di sebelah utara Komplek Masjid Kiai Muara Ogan

Melihat kedua masjid yang dibangun Kiai Muara Ogan (Masjid Kiai Muara Ogan dan Masjid Lawang Kidul) di Palembang ini dibangun di tepi sungai karena memperhatikan kondisi sosial ekonomi masyarakat Palembang ketika itu aktivitas ekonomi dan transportasi banyak dilakukan melalui Sungai Musi.

Makam Kiai Muara Ogan. Tampak seorang ibu ziarah ke makam Kiai Muara Ogan.
Makam Kiai Muara Ogan. Tampak seorang ibu ziarah ke makam Kiai Muara Ogan.

Kiai Muara Ogan wafat pada tahun 1882 (ada pendapat lain wafat pada tahun 1901). Beliau dimakamkan di sebelah utara yang masih satu tempat kawasan Masjid Kiai Muara Ogan. Banyak orang yang berziarah ke makam beliau, karena atas perjuangan dan jasa beliau mensyiarkan Islam di Palembang sampai daerah-daerah pelosok Sumatera Selatan.

Tampak Jembatan Ogan yang membelah Sungai Ogan, tidak jauh dari Masjid Kiai Muara Ogan.
Tampak Jembatan Ogan yang membelah Sungai Ogan, tidak jauh dari Masjid Kiai Muara Ogan.

Masjid Kiai Muara Ogan dan Masjid Lawang Kidul adalah peninggalannya dan diwakafkan untuk kaum muslim Palembang sampai sekarang masih berdiri dan digunakan untuk menunaikan ibadah solat. Masjid Kiai Muara Ogan termasuk satu di antara beberapa masjid di Palembang yang ditetapkan pemerintah sebagai cagar budaya, karena nilai sejarahnya.

Mengenang Perjuangan Kiai Muara Ogan dalam Syiar Islam di Palembang
5 (100%) 1 vote
(Visited 2,087 times, 1 visits today)

IT engineer | Blogger Wongkito Palembang | father of two daughter | interest in travel and tourism

1 Comment

  1. Astina
    August 27, 2015

    Adem ngeliat mesjidny. pingin juga jalan2 ke palembang. 🙂

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *