Nostalgia Nasi Merah di Kedai Makan Simpang Kapten Cek Syeh Palembang

Lalu lintas padat setelah jam kantor di jalan Jenderal Sudirman Palembang tak menghalangi saya untuk pergi ke arah Jalan Kapten Cek Syeh. Entah mengapa beberapa hari ini ingatan saya terus tertuju kesana. Ada satu kedai makan yang sering saya kunjungi ketika saya kecil, dan saya sangat curiga bisa jadi usia kedai tersebut lebih tua dari usia saya sendiri. Dulu, saya dan keluarga sering kesana naik Vespa ayah yang berwarna biru tua. Bila makan disana, menu favorit kami sekeluarga adalah nasi goreng merah yang lezat dan rasanya lain dari yang lain.

Jalan Kapten Cek Syekh Palembang

Tempat Makan di Palembang
Tampak Depan Kedai

Beberapa hari yang lalu saya kembali lagi kesana dengan suami dan anak-anak yang menjemput selepas jam kantor. Memang sih saya tinggal di Palembang, kapanpun saya mau seharusnya saya bisa ke kedai ini. Namun meski begitu, kenyataannya kapan saya bisa kesini bisa dihitung dengan jari. Selain karena kesibukan, jaraknya yang jauh dari rumah saya yang sekarang menjadi salah dua penyebab utama. Namun sore kemarin, saya niat banget mau kesana. Selayaknya orang yang sedang kangen berat, cita rasa nasi goreng merah yang dijual di kedai makan tersebut masih melekat kuat dalam benak.

Waktu menunjukkan pukul 17.45 ketika kami akhirnya parkir di Jalan Kapten Cek Syeh, persis di samping kedai. Seingat saya, tidak ada perubahan yang mencolok pada kedai tersebut. Beberapa peralatan yang digunakan malah sukses melemparkan ingatan saya kembali ke jaman saya kecil dulu.

Masuk ke dalam kedai makan ini, saya menemui dua gerobak berwarna biru di sebelah kanan dan kiri saya. Gerobak sebelah kiri untuk memasak mie jawa dan bihun goreng, sedangkan gerobak sebelah kanan menjual nasi goreng merah yang tersohor itu.

Nasi Goreng Merah
Gerobak sebelah kanan Nasi Goreng Merah, ibu yang jaga
Nasi Goreng Merah
Nah ini ibunya, sembari melayani pembeli terus ada yang nelfon. Halo?
Nasi Goreng Merah
Gerobak sebelah kiri tempat memasak Mie Jawa dan Bihun goreng πŸ™‚
Nasi Goreng Merah
Bapak serius amat ya Pak, inget-inget resepnya ya? πŸ™‚

Ada sebuah spanduk terpajang di dinding dalam sebelah kanan kedai. Ini memicu rasa heran saya. Saya lalu bertanya kepada ibu mengapa spanduknya tidak dipajang di depan kedai saja agar pengunjung tidak sulit menemukan kedai tersebut, atau bagi yang membawa kendaraan setidaknya kedai tersebut tidak kelewatan.

“yo mbak katonyo dio tu malu” Sang Ibu menjawab sambil mengarahkan pandangan pada seorang bapak yang menjaga gerobak mie jawa dan bihun goreng.

Nasi Goreng Merah
Ini spanduknya malah dipajang di dalem bukan diluar, piye?

Saya memperhatikan foto di spanduk tersebut. Benar saja, foto itu sangat mirip dengan si Bapak. Sepertinya beliau malu kalau fotonya terpapar di depan kedai. Bila demikian mengapa membuat spanduk yang ada fotonya? Saya tertawa. Ada-ada saja.

Saya lalu memesan nasi goreng merah beberapa porsi. Melihat sate kerang terpajang di gerobak, saya tergoda untuk memesan sekira 10 tusuk. Harga nasi goreng merah saat ini adalah 17 ribu per porsi dan harga sate kerang 2 ribu rupiah per tusuk.

Sate kerang pedas
Sate kerang pedas nikmat
Nasi Goreng Merah
Nasi goreng merah setelah selesai dimasak didiamkan di kuali saja, tapi tetap sambil dihangatkan
Nasi Goreng Merah
Dibawah kuali arang tetap hidup untuk memanaskan.

Nasi goreng merah ini rasanya lain dari yang lain karena dimasak menggunakan arang. Ketika sudah masak, nasi goreng tersebut tetap ditaruh di dalam kuali besar dan dihangatkan menggunakan arang. Ketika pengunjung datang, sang ibu tinggal mengambil nasi goreng sesuai porsi dari kuali ke piring, dan menambahkan beberapa racikan tambahan. Sedangkan untuk bihun goreng dan mie jawa dimasak sesuai orderan pengunjung. Fresh from the kuali, bihun goreng dan mie jawa dimasak dengan kompor gas biasa.

Nasi Goreng Merah
Nasi goreng merah lengkap dengan acar, ayam suir, emping dan sedikit kecap. ENNNAAAK. πŸ˜€

Nasi goreng merah yang sudah siap kemudian ditambahkan daging ayam yang disuir-suir, acar mentimun, emping melinjo, dan kecap manis sedikit. Saya bersuka cita ketika hidangan sudah di depan mata. Ditemani dengan sate kerang, rasa nasi goreng merah ini masih lezat seperti dulu. Saya memutuskan membawa beberapa bungkus untuk dimakan dirumah. Hasilnya? Nasi goreng ludes sekejap saja. Anak-anak ternyata sangat suka πŸ™‚

Saya sangat menyarankan bagi siapa saja untuk mencicipi cita rasa makanan di kedai ini. Dengan suasana kedai yang tak berubah dari tempoe doloe, anda dapat merasakan pengalaman makan di sebuah kedai yang bernuansa tahun 80-an. Ditambah makanan yang enak; bukan hanya nasi gorengnya, namun mie jawa dan bihun gorengnya pasti membuat pengunjung jatuh hati, persis yang saya rasakan ketika kecil dulu.

Warung makan simpang cek syeh

Jl. Kapten Cek syeh

Buka dari jam 17.00-22.00 Setiap hari

Nostalgia Nasi Merah di Kedai Makan Simpang Kapten Cek Syeh Palembang
5 (100%) 1 vote
(Visited 2,118 times, 1 visits today)

Anak Teknik yg bekerja sebagai Pegawai swasta di bidang Keuangan. Selalu punya affair dengan Agatha Christie, Dan Brown, dan Google. Sangat cinta keluarga kecilnya, rajin nulis di bonadapa.com

2 Comments

  1. Wah belom pernah coba. Jadi ngeces liat nasinya. *noted, kapan-kapan mau cobain*

    Reply
  2. NinaFajriah
    August 18, 2015

    Sekali coba pasti tak terlupa rasanya Om *tsah*

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *